Katamu, Aku Rumah

Katamu, aku rumah.


Terjebak di sebuah hubungan yang nggak tau arah perginya kemana emang capek ya? Bingung mau berhenti atau melangkah lagi. Logika memaksa buat berhenti karena sampai saat ini tidak terlihat usaha yang berarti dari dia. Tapi, perasaan mana bisa bohong, kaya mau menjauh tapi sayang kalau udah agak menjauh malah jadi kangen. Ah gatau aku. Kamu sebenernya mau apa sih? Hampir 3 tahun kita menjalani hubungan tanpa keterikatan begini, buang-buang waktu ku saja. Yang aku sesalkan lagi, kamu seperti tidak ada rasa tanggung jawab karena sudah menguras energi ku bertahun-tahun, minimal berterima kasih karena kita saling menemani atau malah saling minta maaf karena selama ini kita seperti memiliki tapi tidak saling memiliki.

Apa kamu nggak capek jalan ditempat tanpa ada hubungan? Aku tahu, kamu tipe orang yang sangat mengejar apa yang kamu inginkan dan aku tau kamu tidak suka dengan hal-hal ribet seperti ini. Tapi ini keterlaluan, kita nggak pernah ada ujungnya. Mau nemu ujung yang mana kalau usaha aja nggak pernah. Aku nggak pernah menuntut kamu untuk mengutarakan kepada dunia bahwa aku dan kamu sudah menjadi satu. Tapi aku hanya menginginkan tujuan yang jelas, nggak terombang-ambing kaya gini. Mau sampai kapan jalan ditempat ? Apa sampai masing-masing dari kita memutuskan untuk berhenti dengan alasan ketidakterikatan ?

Katamu, semesta pasti berpihak kepada orang-orang yang mau berusaha. Lalu, katamu juga, aku salah satu manusia di bumi yang pantas untuk kamu usahakan. Ruang ingatanku terlalu luas hingga aku hafal bagaimana tiap kata yang kamu ucapkan ketika kita sedang ada dimasa ketidakpercayaan. Masih terngiang jelas, tentang aku yang sudah menjadi rumah satu-satunya tempat untuk kamu pulang. Dan itu katamu lagi.

Capek juga ya bertahan dengan seseorang tanpa adanya kejelasan. Kaya kapal, terombang-ambing. Bedanya, kapal punya nahkoda yang menuntun sampai ke tujuan. Sedangkan aku, entah mau kemana, yang pasti saat itu aku hanya percaya kalau situasi ini pasti ada ujungnya. Dan itu adalah bodohnya aku. Aku terlalu percaya kalau kita akan baik-baik saja. Kalau menurut mata kuliah yang aku ambil, ada suatu hal dimana seseorang akan berpikir positif dan percaya jika hal yang dilakukannya sekarang akan memberikan prospek masa depan yang cerah. Di dunia industri memang ada teori yang seperti itu, kalau tidak salah namanya eskalasi. Dulu aku berpikir juga begitu, selalu menggunakan teori itu untuk hidupku. Terlalu percaya, hingga aku sadar bahwa dunia industri dan hati itu berbeda. Aku yang terlalu idealis dan bodoh. Sepertinya memang aku yang bodoh.

Ini 3 tahun loh, waktu yang cukup lama untuk sekedar main-main, pikirku saat itu. Kalau untuk main-main, aku juga tidak berpikir kalau kamu mau, umur kita sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa hidup bukan ajang permainan. Terlalu banyak makan asam garam sampai-sampai aku hafal dengan semua perlakuan hingga mimik wajahmu ketika sedang kesal karena aku tinggal mengerjakan tugas kuliah terlalu lama. Masih ingat juga ketika nyasar di Jogja dan muter-muter Tugu sampai harus menuntun motor di jalur becak karena kamu salah ambil arah. Terlalu asyik bercerita diatas motor sampai-sampai kita salah ambil jalan di persimpangan malioboro. Kalau diceritakan, kayaknya aku masih bisa senyum-senyum sendiri, tapi pasti nanti diujung cerita aku bakal sedih, nutupin kepala pake selimut trus diem-diem nangis. Aduh cengeng!

Maaf kalau aku terlalu mengenang, karena bagaimanapun itu adalah masa paling seru yang bisa aku ceritakan. Kalau boleh, aku ingin lagi. Tapi aku tidak mau patah hati lagi, cukup kemarin saja. Dan cukup! Bagaimana bisa aku bertahan dengan kondisi yang aku saja tidak tau mau kemana. Sinting memang, serasa di permainkan oleh perasaan. Lama-lama aku ingin meruntuhkan rumah ini. Mengikis pondasi dengan harapan akan runtuh secara pelan-pelan supaya tidak terlalu menyakitkan, minimal untuk diriku sendiri. Tapi kamu sepertinya enggan untuk pergi dari rumah, kamu selalu pulang dan menambal semua retakan.

Logika dan rasa serasa ribut sendiri. Saling adu kalau dirinya itu paling benar. Lama-lama muak juga. Bukannya aku pamrih, tapi katanya cinta butuh 2 orang yang saling berusaha. Lalu untuk apa menunggu sesuatu hal yang tidak pernah kamu usahakan.

Dan aku masih ingat, setelah membungkam perasaan kecewa dan amarah bertahun-tahun akhirnya aku meluap juga. Mau tidak mau, harus diri sendiri yang memutuskan. Aku tidak bisa bergantung terlalu lama, sudah cukup! Dan saat itu juga, kita selesai tanpa ada hubungan yang jelas. Aneh bukan, saling kehilangan tapi tidak pernah memiliki. Oh atau hanya aku yang merasa kehilangan? Iya, pasti cuma aku. Karena setelah itu, kamu punya rumah lagi dan kamu memutuskan untuk menjalani hubungan yang lebih dekat dan serius dengan perempuan itu. Katamu aku rumah untuk pulang, tapi ternyata aku hanya rumah untuk singgah. Sudah, aku terlalu lelah. Mengingat hal itu membuatku marah, semarah-marahnya. Dari dinding rumah yang retak, sekarang sudah hancur tidak tersisa lagi. Tidak ada yang bisa ditambal, apalagi dengan perkataanmu.

Tolong, sosok ini butuh bahagia! Dan aku berpikir, hidupku masih akan berputar tanpa adanya seorang penyangga, walaupun butuh berhari-berhari untuk berotasi secara normal. Untuk yang terakhir kali, aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah mau menemani perempuan yang banyak ngomong ini, sudah mau direpotkan ini itu, dan sudah mau untuk menampung cerita-cerita selama 3 tahun. Aku harap kamu sehat-sehat, bisa lebih tegas dan berani untuk mengambil keputusan. Kamu salah satu manusia dibumi yang pantas untuk aku kenang, tapi hanya sebatas dikenang. Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan kamu. Dan aku juga ingin minta maaf, karena sering membuatmu repot membagi waktu tentang dunia dinasmu dan dunia ku. Maaf kalau aku tidak bisa mewujudkan ekspektasi mu dan maaf kalau aku berhenti lebih dulu.

Jujur, aku tidak pernah cerita dengan teman-temanku. Bahkan banyak teman dekatku yang tidak tau mengenai hubungan ku ini. Dan aku senang karena disini aku bisa bercerita bebas tanpa harus dihakimi. Terima kasih untuk kalian teman baruku yang sudah mau mendengar. Kalau kalian sedang atau pernah merasakan hubungan seperti ini, aku harap kamu segera mengambil keputusan untuk jalan atau berhenti. Toh, kalau berhenti ya gapapa, masih banyak hal yang pantas untuk di usahakan. Mungkin mimpi-mimpi, atau malah kebahagiaan diri sendiri? Kalau bukan diri sendiri yang memutuskan untuk bahagia, lantas siapa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedang Dalam Masa Terjebak